Pages

Test Footer 2

Senin, 23 April 2012

Surah Asy-Syu‘ara’ ayat 214–215


Menyampaikan kebenaran atau kebaikan pastilah tidak mudah. Karena untuk itu, kita sendiri wajib lebih dulu mengamalkan apa yang akan kita sampaikan dan selain itu, dakwah itu harus kita mulai dari scope yang terkecil dahulu, misalnya kepada suami/istri, anak dan kerabat dekat lainnya seperti firman Allah SWT dalam QS Asy Syu'ara (26):214-215:
 Surah Asy-Syu‘ara’ ayat 214–215
وَأَنذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْأَقْرَبِيْنَ، وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ {الشعراء : 214-215}

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman."
Dalam berdakwah, kita juga harus sabar melakukannya dan bertawakkal kepada Allah SWT. Karena kewajiban kita hanya menyampaikan dan mengajak.

Janji Allah SWT terhadap orang-orang yang berani dan mau menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebaikan secara terang-terangan, adalah pemeliharaan dan penjagaan dari Allah SWT seperti firmanNya:
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)." (QS Al Hijr [15]:94-95).
Maka dari itu, janganlah takut, bila kita telah mengamalkan perintah Allah dan merasakan nikmatnya maka wajiblah kita untuk menyampaikan kebenaran itu dan mengajak orang lain yang belum melaksanakan perintah Allah itu.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang Istiqamah di jalanNya dan menjadikan kita pembela agamaNya. Amin.


    Keluarga.
Adalah dakwah yang ditujukan kepada keluarga dekat beliau (keluarga Abdul Muthallib). Dakwah ini dilakukan secara semi terang-terangan setelah turun QS. Asy-Syu’ara: 214-215.


Pendekatan yang dilakukan adalah mengumpulkan para anggota keluarga dalam suatu jamuan makan bersama, kemudian beliau sampaikan tentang berita kenabian dan mengajak mereka untuk mengikuti/menerimanya.
Pada saat inilah muncul penentang utama dari anggota keluarga beliau (Abu Lahab) yang peristiwanya diabadikan oleh Allah dalam QS. Al-Lahab/ al- Masad.



1 komentar:

dyah ajeng paramita mengatakan...

terima kasih banyak, :) sangat membantu